Benang Merah TIP-FTP UGM dan Karirku

Benang Merah TIP-FTP UGM dan Karirku

Lulus pada bulan Agustus tahun 1994, namun sampai pergantian tahun aku belum juga mendapatkan pekerjaan. Akhirnya aku putuskan, bulan Maret 1995 setelah lebaran aku hijrah ke Jabodetabek agar lebih mudah mencari pekerjaan. Aku berniat, apapun pekerjaan asal halal akan aku kerjakan. Sesampai di rumah kakak di Depok, setiap hari aku pelototi iklan lowongan kerja, meski hanya iklan kecil. Berpuluh-puluh surat lamaran sudah aku kirim, tak ada satupun panggilan seleksi penerimaan karyawan aku terima. 

Di bulan Juni, aku menemukan iklan lowongan kerja sebagai research assistant di suatu konsultan kecil yang bergerak di bidang pertanian. Salah satu lulusan yang dicari adalah Sarjana Teknologi Pertanian. Aku segera apply, dan alhamdulillah mendapat panggilan untuk interview. Aku di-interview oleh seorang direkturnya yang ternyata pernah kuliah di FTP UGM, namun kemudian keluar dan melanjutkan kuliah di Belanda. Beliau ok dan meminta aku untuk di-interview oleh research staff yang berkebangsaan Amerika. Mati aku, meskipun toefl-ku memenuhi syarat untuk melanjutkan S2, tapi kalau ngomong langsung jujurly, badanku serasa panas dingin 😊. Aku pikir, kalau dia yang bertanya, bisa jadi bola liar dalam artian aku nggak ngerti Bahasa Inggrisnya. Setelah dia melempar pertanyaan yang aku masih bisa jawab, aku segera mencoba untuk mengambil alih, aku yang banyak bertanya. Dengan trik ini, akhirnya kami bisa bercakap-cakap dengan lancar sekitar setengah jam, sehingga dia berpendapat aku dipandang mampu berkomunikasi lisan dalam Bahasa Inggris dan dia bersedia bekerjasama dengan aku.

Begitu masuk kerja, aku langsung disuruh handle proyek “Penyusunan Kajian Strategi Pemasaran Produk Hortikultura di Eropa Barat”. Menjelang proyek berakhir, di samping menyelesaikan kajian tersebut, aku diminta membuat proposal untuk diusulkan ke Deperindag. Untuk membuat proposal tersebut tiap hari aku harus membaca koran agar tau arah kebijakan pemerintah sehingga proposalku bisa selaras dengan kebijakan tersebut. Selama ini aku jarang sekali baca koran, dan aku memang nggak suka, tapi karena terpaksa maka sejak saat itu baca koran menjadi sarapan pagiku. Alhamdulillah proposalku diterima oleh Deperindag dan diusulkan ke Bapenas. Singkat cerita proposal itu disetujui untuk didanai dengan APBN. Betapa senang direkturku dan tentu saja aku juga senang. Hal ini membuat aku cukup nyaman bekerja di konsultan tersebut, tapi tidak untuk kakakku. Dia merasa terganggu saat menjelang deadline pekerjaan aku terpaksa pulang malam. 

Tiba-tiba aku mendapatkan panggilan tes di Perum Pengembangan Keuangan Koperasi (Perum PKK, sekarang PT Jamkrindo). Sesaat ada sebersit ragu, namun mengigat omelan kakakku saat aku pulang malam, maka aku memilih untuk ikut seleksi dengan harapan kalau bekerja di perusahaan yang berbentuk Perum, bisa pulang lebih tepat waktu. Akupun mengikuti tes, dimana salah satu materi tesnya adalah tentang ekonomi makro dan ada tugas bikin esai tentang perekonomian. Dalam hatiku, ini mah cincai, karena itu pekerjaan sehari-hariku. Alhamdulillah nilai tesku tertinggi dan aku ditempatkan di divisi yang membidangi research di bulan April 1996. Ternyata, Allah membuat jalurku tidak langsung tes di Perum PKK tapi harus melewati kerja di konsultan kecil terlebih dulu karena Dia hendak mengajarkanku untuk menyukai membaca. Tanpa melalui hal tersebut, mungkin aku tidak bisa mendapatkan nilai tertinggi.

Saat aku mulai bekerja di Perum PKK, perusahaan baru mempunyai 3 kantor cabang di Jawa, tepatnya di Bandung, Semarang, dan Surabaya. Salah satu hasil riset dari divisiku menyatakan perlunya dibuka cabang di daerah-daerah lain. Aku mulai berpikir, bagaimana caranya agar aku bisa tetap ditempatkan di kantor pusat. Aku pikir, aku harus punya spesialisasi agar dibutuhkan oleh kantor pusat. Kemudian di tahun 2001, akupun memilih untuk mengambil studi S-2 di bidang manajemen risiko, dimana jurusan itu baru dibuka oleh UI dan di universitas lain juga belum ada. 

Karena ilmu baru, kami yang merupakan angkatan pertama nggak punya gambaran materi mata kuliahnya bakal seperti apa. Banyak teori stastika yang kami pelajari untuk membuat model prediksi risiko. Beberapa yang aku ingat antara lain adalah multivariate analysis, monte carlo simulation, dan Markov chain analyisis. Hampir semua temanku garuk-garuk kepala, “binatang apa ini…”. Alhamdulillah aku nggak asing lagi, karena ada di text book waktu kuliah di TIP. Aku cukup baca sambil membuka memori otakku Kembali. Akupun bisa menjelaskan ke teman-temanku tentang teori-teori tersebut. Aku mengambil tesis Credit Risk Measurement dengan model macro simulation approach. Model macro simulation approach ini pada dasarnya adalah model prediksi risiko kredit berupa matrix transition yang di-generate dengan Markov chain analysis kemudian dikorelasikan dengan persamaan probit logit dari beberapa variable makro ekonomi dan variabel tertentu yang di-generate dari hasil simulasi. Dalam mengerjakan tesisku tersebut, aku sangat terbantu dengan teori yang aku baca waktu S-1 di TIP. Alhamdulillah tesisku mendapat nilai A dan aku bisa menjadi lulusan pertama Jurusan Manajemen Risiko UI. Alhamdulillah juga, aku menjadi mahasiswa yang mendapatkan undangan untuk mendapatkan penghargaan. Pemberian penghargaan tersebut dilakukan pada acara gala dinner yang diselenggarakan di hotel Shangri-la di samping kantor pusat BNI. Gala dinner tersebut adalah gala dinner yang pertama kali aku hadiri, dengan bintang tamu Andien, penyanyi yang kebetulan aku suka dan MC Indy Barends. Satu lagi yang tak kalah bikin aku seneng banget, yang memberikan penghargaanku adalah Ibu Gayatri, Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko BRI yang aku kagumi.

Kemudian aku membuat konsep implementasi manajemen risiko di kantor hingga akhirnya dipandang perlu untuk dibentuk Bagian Manajemen Risiko dan aku dimutasi menjadi Kepala Bagian Manajemen Risiko. Kemudian, manajemen risiko dipandang penting untuk Perusahaan dan level bagian tersebut kemudian dinaikkan menjadi Divisi Manajemen Risiko. Akupun dipromosi menjadi Kepala Divisi Manajemen Risiko, yang berarti aku bisa menjadi kepala divisi tanpa perlu berkarir di cabang.

Akhirnya, aku menyadari benang merah antara ilmu S-1 ku dengan karirku yang seolah sama sekali tidak berhubungan. Meskipun demikian, sampai saat ini masih banyak yang bertanya, lulusan Sarjana Teknologi Pertanian, STP kok kerja di perusahaan penjaminan. Aku jawab dengan santai… STP kan Sarjana Teknik Penjaminan, jawabku ngawur. Jelasin secara singkatnya susah, ceritanya kepanjangan… 

Terima kasih FTP UGM alamaterku, terima kasih guru-guruku, terima kasih teman-temanku yang membuatku mampu melalui perkuliahan di TIP-FTP UGM yang tidak mudah bagiku….😊

Login Anggota